29/07/2018

Inilah SepakTerjang Agen Intelejen Mossad



IDINDO.com – Sejumlah negara punya unit pasukan rahasia untuk menjalankan tugas intilejen dan operasi khusus untuk kepentingan politik maupun keamanan negara. Rusia terkenal dengan KGB-nya, Amerika Serikat punya kesatuan Secret Service juga CIA.
Sementara Israel punya agen intelejen Mossad. Dilansir oleh The Daily Mail, Mossad diyakini telah melakukan 800 operasi rahasia ‘hanya’ dalam hitungan 10 tahun. Unit intelijen dan keamanan Israel ini juga diyakini sebagai agen rahasia yang paling banyak membunuh target operasi. Anggota mereka memang sangat terlatih melakukan operasi yang melibatkan aksi pembunuhan.
Setiap operasi dilakukan dengan cara yang tak diduga oleh sasaran. Sejumlah operasi rahasia Mossad itu dibeberkan secara rinci dalam buku berjudul Rise And Kill First: The Secret History Of Israel’s Targeted Assassinations, karangan jurnalis Ronen Bergman.
Bergman, menunjukkan beragam cara agen Mossad menghabisi sasaran mereka. Disarikan oleh The Daily Mail, beginilah beberapa operasi Mossad yang paling terkenal :
1. Pasta Gigi Maut ‘Sang Kesedihan’
Sekitar tahun 1978.
Wadie Haddad adalah salah satu pria yang paling dicari oleh Amerika Serikat dan Israel. Haddad dikenal sebagai salah satu pendiri PLO, atau Front Pembebasan Palestina.
Enam tahun lamanya, Mossad merencanakan membunuh Wadie Haddad. Tapi, Haddad masih bisa lenggang kangkung, hidup nyaman di sebuah apartemen di Palestina. Pada 10 Januari 1978, seorang anggota Mossad berhasil menyamar menjadi salah satu orang kepercayaan Haddad. Hingga kini, tak diketahui nama agen Mossad tersebut.
Ia hanya dikenal dengan julukan Sang Kesedihan. Agen Mossad tersebut diam-diam mengganti pasta gigi dengan pasta gigi beracun.
Pasta gigi ini diciptakan di sebuah laboratorium khusus di Tel Aviv, Israel. Setiap kali Haddad menggosok gigi, racu masuk ke dalam tubuhnya. Sepuluh hari setelah memakai pasta gigi tersebut, Haddad meninggal.
2. Pembunuh Cuci Otak
Operasi yang ini terjadi di tahun 1968. Mossad mencoba membunuh pimpinan PLO, Yasser Arafat. Berbagai cara dilakukan, akhirnya Mossad mencoba cara yang tak lazim.
Mereka mendatangkan seorang psikolog asal Swedia. Psikolog ini dikenal sebagai pakar mencuci otak. Tugasnya satu : mencuci otak seorang warga Palestina yang jadi tawanan Israel, dengan nama sandi ‘Fatkhi’. Selama 3 bulan, Fatkhi dicuci otak oleh sang psikolog.
Ia terus menerus dijejali doktrin : “Arafat itu jahat, dia harus dibunuh”
Di sebuah ruangan khusus, Fatkhi, terus menerus dilatih menembak Yasser Arafat. Pada 19 Desember 1968, tim Mossad secara diam-diam membawa Fatkhi masuk ke markas besar PLO lewat Sungai Yordania.
Tim menunggu Fatkhi hingga 5 jam. Tapi, mereka tak tahu, pikiran Fatkhi ternyata terlalu kuat untuk dipengaruhi. Fatkhi ternyata malah kabur ke kantor polisi, menceritakan apa yang terjadi padanya.
Operasi pembunuhan Yasser Arafat pun gagal.
Kisah operasi ini kemudian menjadi ide dari film Hollywood berjudul The Manchurian Candidate.
3. Bawa Raket Palsu
Operasi lainnya, belum begitu lama terjadi, tepatnya pada 20 Januari 2010.
Belasan agen Mossad, masuk ke Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka masuk menyamar sebagai turis dan atlet tenis.Tim sukses mengelabui petugas imigrasi dengan paspor palsu, wig, kumis palsu, bahkan pura-pura membawa raket segala.
Mereka lalu langsung menyelinap ke sebuah kamar hotel supermewah Al-Bustan, yang dihuni oleh orang penting Hamas : Mahmoud al-Mabhouh.
Saat al-Mabhouh masuk, mereka langsung membekap, lalu mengeluarkan senjata canggih suntikan yang memakai teknologi suara ultrasound.
Suntikan masuk ke Al-Mabhouh bahkan tanpa harus menempelkan jarum ke kulit.
Al-Mabhouh meningal beberapa saat kemudian. Hanya berselang 4 jam setelah serangan kilat itu, semua anggota Mossad sudah berada di rumah mereka di Israel.
4. Polisi Inggris Pun Dibunuh
Sasaran Mossad bukan hanya muslim, orang Palestina atau orang Timur Tengah.
Bahkan, seorang polisi Inggris, juga jadi sasaran, kalau dianggap mengganggu misi berdirinya zionis. Insiden ini terjadi pada 1944. Saat itu, Palestina masih dipegang oleh pemerintah Inggris.
Yerusalem masuk dalam wilayah pemerintahan Palestina. Ketika itu, orang-orang Israel justru yang bergerilya, bukan Palestina seperti saat ini. Mereka punya misi mengusir Inggris dari Palestina, sehingga tak ikut campur dengan misi pencaplokan Israel terhadap tanah Palestina.
Salah satu polisi Inggris yang getol melawan gerakan zionis ini adalah Detektif Thomas James ‘Tom’ Wilkin.

Berbagai sumber

SHARE THIS

Author:

0 komentar: