09/12/2017

Mesir Deportasi Muhammad Fitrah Mahasiswa asal Indonesia

   Ist

IDINDO.com - Setelah ditahan sejak 22 November 2017, mahasiswa Al Azhar asal Riau, Muhammad Fitrah, akhirnya diputuskan pihak dinas keamanan nasional Mesir untuk dideportasi ke Indonesia pada Sabtu (9/12/2017) dini hari ini, dengan alasan keamanan.

Muhammad Fitrah adalah salah satu dari 19 mahasiswa yang dideportasi otoritas Mesir selama tahun 2017.

Fitrah bersama empat mahasiswa Indonesia lainnya ditangkap aparat keamanan Mesir pada 22 November lalu.

Dua dari lima mahasiswa Indonesia itu kemudian dibebaskan, karena memiliki izin tinggal. Dua mahasiswa lainnya telah dideportasi pada 30 November lalu, karena mereka tidak memiliki izin tinggal.

Namun Fitrah diputuskan tetap dideportasi, meskipun ia memiliki izin tinggal.
"Ini yang sedang kita akan dalami dan komunikasikan dengan pemerintah Mesir. Alasan keamanan seperti apa yang membuat Fitrah harus dideportasi meski dia memiliki izin tinggal," kata Dubes RI untuk Mesir Helmy Fauzy yang juga mantan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Ia mengkhawatirkan, penahanan mahasiswa Indonesia di Mesir yang sedang dalam status negara dalam keadaan darurat ini akan terus berulang mengingat terdapat sejumlah mahasiswa Indonesia yang belum memperoleh perpanjangan izin tinggal.

Pada hari Rabu (6/12/2017) lalu Fitrah sempat dijenguk istri dubes RI di Mesir, Dwi Ria Latifa, yang berhasil memfasilitasi Fitrah berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia melalui telepon.

"Imbauan ini ditujukan sebagai upaya perlindungan warga dan tentu semua ini untuk kepentingan ketenangan proses studi mahasiswa Mesir," ujar Helmy.

Seperti dimaklumi, aksi kekerasan di Mesir belum sepenuhnya bisa diredam, terutama pasca-penggulingan pemerintah Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013.

Serangan paling berdarah terjadi pada 24 November lalu atas Masjid Al Raudhah, Semenanjung Sinai Utara, yang membawa korban 305 tewas.

Hingga saat ini Mesir masih terus menerapkan situasi negara dalam keadaan darurat yang diberlakukan sejak bulan April lalu.

Dalam situasi negara dalam keadaan darurat, aparat keamanan diberi wewenang untuk menangkap dan menahan warga lokal maupun asing di Mesir kapan saja dan dimana saja yang dianggap mengancam keamanan nasional negara itu.

Sementara itu, terkait situasi keamanan pasca-Presiden AS Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, KBRI Kairo hari Jumat kemarin mengeluarkan imbauan, agar wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Mesir untuk menunda dan tidak meneruskan kunjungan ke Jerusalem melalui wilayah Semenanjung Sinai.

KBRI Amman juga mengeluarkan imbauan agar wisatawan Indonesia menunda dan tidak meneruskan kunjungan ke Jerusalem lewat Amman.

Sumber : Kompas.com

SHARE THIS

Author:

0 komentar: