09/10/2017

Wapres Kuba Tolak Permintaan Trump

     Ist

IDINDO.com - Wakil Presiden Pertama, Miguel Diaz-Canel, -yang diperkirakan akan menggantikan Presiden Kuba Raul Castro awal tahun depan, menolak permintaan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump meminta agar negara komunis tersebut mengubah kebijakan dan sistem ekonomi mereka.

Dalam pidato hari Minggu (8/10/2017),  Miguel Diaz-Canel justru mengkritik tekanan AS kepada pemerintahan Venezuela.

Dia juga menyebut ada upaya untuk merugikan industri pariwisata Kuba.
"Semua itu, dan kejadian baru lainnya di wilayah ini membuktikan imperialisme tidak akan pernah bisa dipercaya, bahkan tidak sedikit pun, tidak pernah," kata dia.

Diaz-Canel mengutip Ernesto Che Guevara pada sebuah upacara memperingati 50 tahun kematian tokoh revolusioner yang membantu memimpin pemberontakan ala Kuba di Bolivia.

"Kuba tidak akan memberi konsesi dari kedaulatan dan kemerdekaannya, merundingkan prinsipnya atau menerima kondisi yang dipaksakan," kata Diaz-Canel.

Trump sebelumnya menyampaikan pandangannya baru-baru ini di PBB. Trump menyebut, sanksi tidak akan dicabut sampai Kuba memulihkan demokrasi dan kapitalisme
"Perubahan yang dibutuhkan di Kuba hanya akan dilakukan oleh rakyat Kuba," kata Diaz Canel.

Castro, yang kini berusia 86 tahun, telah mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai presiden pada bulan Februari 2018.
Para pengamat berharap, Diaz-Canel yang kini berumur 57 tahun akan menjadi kepala negara pertama sejak awal 1960-an yang nama akhirnya bukan Castro.
Tidak ada pemilihan langsung di Kuba untuk jabatan presiden.

Trump mengatakan, dia akan sekali lagi memperketat sanksi terhadap Kuba dan mengusahakan perjanjian yang lebih baik dibanding perbaikan hubungan bertahap yang ditempuh pendahulunya, Barack Obama.

Pemerintahan Trump telah mengurangi jumlah staf kedutaan besar AS di Kuba dan meminta Kuba mengurangi jumlah staf kedutaannya di Washington, karena dugaan serangan misterius di Havana.

Disebutkan, AS tidak menyalahkan Kuba atas insiden yang masih belum terpecahkan itu.
Namun AS tetap memandang Kuba bertanggung jawab karena tidak melindungi staf kedutaan AS yang adalah perwakilan negara asing yang sedang bertugas di Havana.


Sumber : VOA

SHARE THIS

Author:

0 komentar: