23/10/2017

UU Euthanasia di Australia Masih Menunggu Keputusan Senat

   Ist

IDINDO.com, CANBERRA - Akses ke kematian yang dibantu secara medis bagi warga negara bagian Victoria, Australia, yang sakit parah berada di tangan segelintir anggota Senat. Sejauh ini, pemungutan suara terakhir di tingkat DPR belum bisa mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) kontroversial tersebut.

Setelah maraton sidang pekan lalu, para anggota Parlemen di DPR Victoria akhirnya memilih untuk meloloskan euthanasia (suntik mati) sukarela di Victoria, dengan hasil akhir pemungutan suara 47-37. Menteri Utama Victoria, Daniel Andrews, menyebut, aturan ini dirancang dengan model paling konservatif di dunia.

RUU tersebut akan dibahas di tingkat Senat minggu depan di mana jumlah suaranya begitu ketat.

Ada 19 suara 'Ya' (mendukung) yang sudah pasti didapat, kurang 2 dari jumlah 21 suara yang dibutuhkan, di antara total 40 anggota Senat.

Itu termasuk suara Fiona Patten dari Partai 'Reason', 5 suara dari Partai Hijau, 2 suara dari Partai Liberal dan 11 suara dari Partai Buruh.
Sejumlah pihak yang menentang RUU tersebut antara lain tiga anggota Parlemen asal Partai Buruh, Rachel Carling-Jenkins dari kubu Konservatif Australia, Satu anggota Parlemen dari kubu Nasional dan setidaknya delapan orang anggota Partai Liberal.

Politisi Georgie Crozier mengatakan, setelah banyak berpikir dan menganalisa RUU tersebut, ia tak bisa mendukung rencana tersebut karena kekhawatiran adanya paksaan terhadap sejumlah orang di kemudian hari.

Banyak yang belum terjawab
Crozier memiliki ketakutan bahwa beberapa orang akan merasa membebani keluarga mereka dan melihat kematian secara sukarela ini sebagai bantuan kepada orang yang mereka cintai.

James Purcell dari Partai Buruh secara pribadi mendukung euthanasia namun mengatakan bahwa mengingat hasil suara akan sangat ketat, ia ingin memastikan bahwa hasil itu juga merupakan kehendak para pemilihnya.
Ia mengatakan, dirinya tidak akan abstain.
"Saya tidak pernah lari dari pemungutan suara dan saya tidak akan memulainya dengan isu ini," ujarnya.

"Suara saya akan ditujukan untuk masyarakat, bukan untuk saya."

"Pada tahap ini, Saya benar-benar berpikir bahwa mayoritas warga di barat Victoria mendukung RUU tersebut tapi saya akan menunggu dan memutuskan di hari terakhir."
Anggota Partai Liberal, Wendy Lovell, mengatakan bahwa ia berusaha untuk tetap berpikiran terbuka namun tetap mempelajari RUU tersebut.

"Perlu sedikit waktu untuk meyakinkan saya saat ini, ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab," ujar Lovell.
Presiden Partai Liberal di Senat, Bruce Atkinson, mengatakan bahwa ia belum memutuskan suaranya, seperti Margaret Fitzherbert, anggota Parlemen Victoria untuk Wilayah Metropolitan Selatan.

Rekan mereka, yakni Simon Ramsay, sebelumnya mengatakan bahwa ia mendukung gagasan euthanasia namun belum memutuskan suaranya untuk RUU tersebut.

Kantor anggota Parlemen dari kubu Nasional, Melina Bath, mengatakan bahwa anggota Parlemen asal Gippsland itu masih menangguhkan suaranya atas masalah tersebut, namun koleganya -Luke O'Sullivan -akan memberikan suara menentang RUU tersebut.

Dua anggota Parlemen dari Partai Shooters, Fishers and Farmers belum mengumumkan bagaimana posisi mereka terhadap RUU tersebut.

Belum bisa diputuskan

Menteri Khusus Negara Bagian, Gavin Jennings, mengakui bahwa sejumlah amandemen mungkin diperlukan untuk mendapatkan dukungan terhadap RUU tersebut di Senat.

"Kami tak mengusulkan amandemen dan preferensi jelas Pemerintah adalah untuk tidak memiliki amandemen, tapi saya menghadapi kenyataan di mana saya tidak mengendalikan jumlahnya, Pemerintah tidak mengendalikan jumlah suara di Senat," jelasnya.

"RUU ini, RUU kematian sukarela dengan bantuan, akan seperti RUU lainnya. Setiap suara tunggal berpotensi untuk menangguhkan keputusan."

Berbagai sumber

SHARE THIS

Author:

0 komentar: