15/10/2017

LJSI : Hanya 35,7 Persen Warga NU yang Pilih Syaifullah Yusuf dan Khofifah

   Direktur Eksekutif LJSI, Fahrurizal

IDINDO.com, JAKARTA - Sejumlah kandidat yang bakal berjibaku di Pilkada Jawa Timur (Jatim) 2018 mendatang mulai menunjukan taringnya.

Untuk melihat sejauh mana tingkat elektabilitas para kandidat, Lembaga Jaringan Suara Indonesia (LJSI) mengadakan survei yang dimulai pada tanggal 28 September berakhir 8 Oktober 2017, mengusung tema : "Siapa Tokoh yang Dipilih Sebagai Gubernur Jawa Timur 2018-2023"

Menurut Fahrurizal SIP selaku Direktur Eksekutif Lembaga Jaringan Suara Indonesia (LJSI) dalam siaran persnya di Kantornya Jakarta, Minggu, (15/10/2017) mengatakan, yang mana kembali untuk kedua kalinya lembaganya akan menggelar survei dalam menakar keterpilihan para tokoh bakal calon gubernur Jawa Timur yang makin ramai menjadi buah bibir masyarakat di Jawa Timur.

"Survei diadakan di 29 Kabupaten dan 9 Kota di Jawa Timur dengan metode wawancara tatap muka  langsung dengan Warga Jawa Tmur yang memiliki Hak pilih pada Pilgub Jawa Timur dibulan Juni 2018," jelasnya.

Untuk metode yang digunakan LJSI yakni, multistage random sampling sampel responden dipilih secara acak. Sementara, margin of error survei kurang lebih 2,3 persen dengan tingkat kepercayaannya sebesar 95 persen.

Dari 1816  responden hanya 67,6 persen yang mengetahui akan adanya Pemilihan Gubenur Jawa Timur pada Juni 2018.

"Sementara sisanya sebanyak 32,3  persen responden sama sekali tidak tahu akan adanya Pilgub pada tahun depan, tentu saja hasil Survei ini menunjukkan kalau KPU mulai bekerja karena saat Survei pertama LJSI baru 57,3 Persen warga jawa Timur yang tahu akan adanya Pilgub" tuturnya.

Dalam survei ini responden diminta untuk menilai tingkat kompetensi para tokoh yang diuji dalam survei dan hasilnya La Nyalla Mataliti adalah tokoh yang dinilai oleh 88,6 persen responden memiliki kompetensi sebagai Pemimpin/Gubernur yang bisa menyelesaikan masalah- masalah di masyarakat Jawa Timur terutama masalah perbaikan ekonomi masyarakat, iklim investasi di JawaTimur, serta masalah peningkatan sektor  pertanian di Jawa Timur dengan segudang pengalaman sebagai Pengusaha dan Pembina Ormas di JawaTimur.

Diurutan kedua adalah Syaifullah Yusuf yang dinilai oleh 71,6 persen responden memiliki kompetensi sebagai Gubernur Jawa Timur, sementara Tri Rismaharini dinilai memiliki kompetensi kepemimpinan 68,9 persen oleh Responden, Khofifah Indar Parawansa 68,7 persen , Abdullah Azwar Anas 67,6 persen Nurwiyatno 66,3 persen dan Kombes Polisi Syafi'in  50,9 persen.

Dari seluruh tokoh yang diuji , La Nyalla memiliki tingkat akseptabilitas oleh masyarakat Jatim yaitu 86,4 persen dari 1816 responden sangat menerima La Nyalla sebagai Gubernur dan ini menunjukkan hubungan yang sangat linear dengan jawaban responden yang menerima tokoh lebih berdasarkan kemampuan tokoh sebanyak 88,3 persen, kesamaan etnik , suku dengan tokoh 15,3 persen dan kesamaan agama 56,3 persen, kesamaan gender dengan tokoh Calon Gubernur 16,3 persen.

Sedangkan Syaifullah Yusuf memiliki tingkat akseptabilitas sebesar 67,5 persen , Tri Rismaharini 65,7 persen , Khofifah 65,4 persen , Nurwiyatno 56,5 persen dan , Kombes Polisi Syafi'in 51,7 persen

Tingkat kompentensi dan akseptabilitas para tokoh pada akhirnya punya hubungan menentukan pilih tingkat keterpilihan pada para "tokoh", ketika responden ditanyakan siapa figur akan Bapak/Ibu pilih saat pemilihan gubernur? maka responden menjawab La Nyalla Mataliti 21,7 persen memilih Syaifullah Yusuf, Tri Rismaharini 15,8 persen dan Khofifah Indar Parawansa 14,1 persen kemudian, Nurwiyatno 7,3 persen, Abdullah Azwar Anas 4,3 persen dan Kombes Polisi Syafi'in 1,3 Persen.

Lagi kata Fahrurizal, hasil penilaian para tokoh oleh masyarakat Jawa Timur menunjukkan kalau masyarakat Jawa Timur lebih menginginkan gubernur yang punya kompetensi untuk bisa meyelesaikan masalah ekonomi dan kesejahteraan mereka.

"Hal tampak dari jawaban responden yang menginginkan 48,3 persen Gubernur baru bisa menciptakan lapangan kerja di kota dan di desa, mampu menarik genuine investor ke Jawa Timur sebanyak 29,3 persen,Dan mengerakan Ekonomi pedesaan 22,4 persen," jelasnya.

Selanjutnya kata dia, dari 1816 responden yang merupakan warga Nahdliyin sebanyak 1352 atau 74,4 persen dalam jawaban survei yang memilih Syaifullah Yusuf dan Khofiffah hanya 35,7  persen saja atau sebanyak 650 responden dari 1816 responden. "Artinya suara kaum Nahdliyin Jawa Timur sudah terpecah dalam Pilgub Jawa Timur," ujarnya.

SHARE THIS

Author:

0 komentar: