05/10/2017

KKK Gelar Dialog Publik Mapalus Pencegahan Penyebaran Terorisme dan Penyebaran Paham Radikalisme di Sulut


IDINDO.com - Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) menggelar diskusi publik dengan tema : "Mapalus Mencegah Penyebaran Terorisme dan Paham Radikalisme di Sulawesi Utara Demi Keutuhan NKRI," Jumat (6/10/2017). Kegiatan ini berkat kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Kol. James Vanderslot SH MH, MKN, Donald Sendouw selaku Ketua dan Sekretaris Panitia menjelaskan, acara ini sendiri merupakan sebuah telaah kondisi global, nasional dan regional, atas gejala terorisme yang bukan hanya terjadi di Luar Negeri, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara. Terutama menyusul Bom Kampung Melayu dan termasuk Penguasaan Marawi, Philipina oleh kelompok Teroris ISIS. Melihat semakin dekat dan semakin terindikasinya kelompok terroris dan paham radikal di Provinsi Sulawesi Utara, maka dirancanglah kegiatan ini. Dan, atas terselenggaranya, maka beberapa ditegaskan sebagai berikut:

Pertama, Aksi Terrorisme dan Aksi Penyebaran Paham Radikalisme merupakan gejala global yang juga menggejala di Indonesia, dan bukan tidak mungkin Sulawesi Utara. Persoalannya, aksi terror dan paham radikal, sebetulnya tidak terutama terkait dengan agama tertentu, tetapi belakangan semakin dikaitkan dengan agama tertentu di Indonesia, Islam. Hal yang bagi kami perlu di perdebatkan dan diklarifikasi karena bisa membelah kebersamaan sebagai satu Bangsa, Bangsa Indonesia dalam kerangka NKRI.

Kedua, sekilas pemberitaan soal Terorisme dan Paham Radikalisme, bagai melekat dengan agama mayoritas di Indonesia. Hal yang mesti dipahami sebagai satu hal yang tidak benar, karena agama manapun mengajarkan kebaikan, meski memang sering dipakai untuk alat pembenar atas tindak kejahatan sekalipun. Maka, hal ini perlu sangat dipahami, agar kebersamaan sebagai satu Bangsa, tidaklah hancur karena persoalan yang tidak diletakkan secara proporsional.

Ketiga, gejala terrorisme dan radikalisme di Indonesia, memang mesti disikapi secara komprehensif, karena gerakan radikalisme di Indonesia semakin menguat pasca Pilkada DKI. Terlebih, setelah kasus teror bom Kampung Melayu dan penguasaan ISIS atas Kota Marawi di Philipina, yang sudah sangat dekat dengan Provinsi Sulawesi Utara. Pemerintah Pusat, bagaimanapun mesti berupaya keras agar penyebaran paham dan sikap radikalism, sedapat mungkin diminimalisasi lewat program deradikalisasi, maupun proses penguatan paham kebangsaan.

Keempat, dalam konteks ini, maka Pengalaman Sulawesi Utara, mestinya bisa dan mampu memberi pilihan alternatif dan sikap toleransi terbangun yang bisa atau mampu disistematisasi dalam konteks Nasional. Kebersamaan yang selalu saling mengisi dan saling menjaga dalam kebersamaan Mapalus sebagai lokal wisdom, perlu diperkuat agar mampu terus merekat dan menjauhkan Sulut dari aksi terror dan menyebarnya paham radikalisme.

Kelima, kami menolak segala macam aksi terorisme dan penyebaran paham radikalisme yang tidak bertumbuh dan bukan bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang multi etnis, multi-agama dan multi budaya. Tidak ada tafsir tunggal atas satu agama, satu etnis, satu budaya, tetapi atas kebersamaan. Maka, dari Kota Manado, kami tegaskan kecintaan warga Sulawesi Utara atas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus, menolak aksi teror dan paham radikalisme di manapun di Indonesia sambil berusaha mengajarkan dan menularkan prinsip toleran dan juga mapalus kebersamaan budaya bagi mengenyahkan teror dan radikalism.

Mari bersama warga Sulawesi Utara menjaga kebersamaan sebagai Anak Bangsa Indonesia yang mengedepankan Toleransi dan Pluralisme bagi seluruh anak bangsa. Maka, Indonesia akan maju lebih jaya kedepan.




SHARE THIS

Author:

0 komentar: