26/10/2017

Andreas Yewangoe: Stop! Diskriminasi Mayoritas dan Minoritas

   Ist

IDINDO.com – Pengarah Unit Kerja Presiden Pdt. A. A. Yewangoe, Kamis (26/10/2017), saat membawakan materi dalam Seminar Nasional Kebangsaan yang mengusung tema : "Merawat Toleransi, Satukan Nusantara" yang digagas GKerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) menegaskan agar stop diskriminasi mayoritas dan minoritas! 

"Stop diskriminasi pribumi dan non pribumi!" tegas Yewangoe  dalam Seminar Nasional Kebangsaan yang dipandu Pdt Teddy Batasina.

Selanjutnya kata mantan Ketua PGI ini, diskriminasi hanya akan menyebabkan perpecahan sesama anak bangsa. Merusak toleransi di bumi persada dan tindakan ini tidak sesuai dengan Ideologi Pancasila sebagai dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempersatukan semua perbedaan. 

"Semua elemen bangsa harus berkomitmen dan bersinergi untuk menangkal paham radikalisme, terorisme dan intoleransi  yang hanya akan merusak keutuhan  NKRI," jelas dia.

Sedangkan pemateri lainnya Panglima Daerah Militer XIII Merdeka Mayjen TNI Ganip Warsito dalam kesempatan ini menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (17.000 lebih pulau), garis pantai nomor 2 terpanjang di dunia,  terdiri dari kurang lebih 714 suku dengan 1.100 lebih bahasa lokal, lahir dari perjuangan serta pengorbanan seluruh rakyat Indonesia. 

"Bukan hanya golongan atau suku tertentu, tetapi karena persatuan dan kesatuan wujudkan Indonesia yang merdeka san berdaulat. Jika tidak ada Muslim itu bukan Indonesia, jika tidak ada kristen itu bukan Indonesia, jika tidak ada Hindu itu bukan Indonesia, jikat tidak ada Budha itu bukan Indonesia, jika tidak ada kongfutcu itu bukan Indonesia, karena Indonesia diikat oleh Bhineka Tunggal Ika,” terangnya.

Saat ini kita harus tetap waspada dari radikalisme, Terorisme serta intoleransi yang mengancam persatuan dan kesatuan. Ada strategi baru dikenal dengan nama ‘Proxy War’ yang berarti meminjam tangan pihak ketiga atau tangan orang lain  untuk menghancurkan atau merusak toleransi, persatuan dan kesatuan di bumi persada dan kita tidak tahu siapa musuh tersebut. Sampai saat ini Indonesia masih utuh karena ada Bhineka Tunggal Ika,” katanya.
Sedangkan pembicara ketiga, Ketua Majelis Pertimbangan KGPM S. H. Sarundajang, mangatakan bahwa semua elemen bangsa harus memahami betul apa itu paham Radikalisme dan Terorisme. 
Dijelaskan pula, Ibu dari Terorisme adalah Radikalisme. Dan paham ini telah masuk dan mulai merusak sendi-sendi anak bangsa, mereka (kolompok Radikalisme dan Terorisme) ada dimana-mana.
Bagaimanapun juga ujar Anggota Dewan Pers ini, ketika kelompok tersebut tidak ada gerakan atau aksi, maka tidak bisa ditangkap oleh penegak hukum, karena Undang-undang tidak mengijinkan. 
Untuk itu Sarundajang mengingatkan agar selalu waspda. Karena dalam aksinya, kelompok ini tidak segan-segan melakukan tindakan kekam dan bengis. Di Philipina ada kelompok Abu Sayap, dimana tingkat kekekaman mereka tujuh kali lebih sadis dari kelompok ISIS,” 

SHARE THIS

Author:

0 komentar: