22/08/2017

Wapres Berharap Diaspora Bersatu


IDINDO.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyinggung perpecahan dalam kepengurusan diaspora Indonesia saat menyampaikan pidato pembukaan Global Summit Congress of Indonesia Diaspora (CID) ke-4, di Jakarta, Senin (21/8/2017). 

Wapres mendesak agar seluruh diaspora bersatu dan menjadi contoh, bukan malah membingungkan masyarakat.
Global Summit ini merupakan kongres kedua yang digelar setelah kongres serupa pada 1-4 Juli lalu atas gagasan Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global (IDGN), Dino Patti Djalal. Kongres Juli menghadirkan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sebagai pembicara kunci.

“Jangan membingungkan masyarakat. Saya sendiri bingung. Ini kok baru-baru ini ada kongres diaspora, ada kongres lagi di sini. Mana yang benar? Jangan tiru-tiru partai di Indonesia. Anda harus menjadi contoh,” kata Wapres JK.

JK berharap diaspora maju bersatu untuk ikut menyejahterakan masyarakat. JK juga meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk menyelesaikan perpecahan tersebut.

“Anda mengambil contoh dari partai Indonesia, pecah, semua ingin menjadi pemimpin. Jangan. Di samping membingungkan anggota, kita juga bingung. Kongres diaspora kok ada lagi, barusan saya tahu dari Ibu Menlu ada persoalan,” ujar JK.

“Artinya biar menlu selesaikan dulu. Kalau tidak sanggup, biar saya juga ikut serta,” lanjut JK kepada menlu yang juga hadir dalam acara itu.

Dalam kongres diaspora Juli lalu sudah dilantik pengurus diaspora. Pelantikan sama juga dilakukan pada 17 Agustus lalu oleh para penyelenggara kongres diaspora Agustus (hari ini). 

Selain Wapres JK dan menlu, kongres diaspora hari ini juga dihadiri oleh Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

JK mengatakan diaspora Indonesia yang berjumlah enam juta orang, adalah potensi besar yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Dia berharap diaspora bisa “memviruskan” ilmu, inovasi, pengetahuan ke dalam negeri.

JK mencontohkan diaspora yang berprofesi sebagai ilmuwan bisa membagi ilmunya ke dalam negeri, termasuk perguruan tinggi di Indonesia agar tidak ketinggalan dengan negara lain. Para pengusaha juga bisa mentransfer usahanya dan para profesional lain bisa membagi sistem atau inovasinya.

Sumber : beritasatu.com


SHARE THIS

Author:

0 komentar: