02/07/2017

Romans Sejarah Dinasti HAN Pada Indonesia Dalam Kekinian (Bag I)


Penulis : James K.Bong

Di bulan Juni yang hebat ini selalu kita memperingati hari lahirnya tokoh-tokoh besar dunia dan Indonesia, tokoh-tokoh perubahan yang menciptakan peradaban baru postif dan memajukan pada masanya sebutlah misalnya SOEKARNO, JOKOWI dan AHOK yang lahir pada  tanggal 6, 21 dan 29 Juni.

Namun kepemimpinan mereka mendapat tantangan dan perlawanan dari dalam. Ada oknum pemimpin yang berkonspirasi dengan pelbagai pihak baik di dalam struktur pemerintahan, militer, suku dan agama yang oleh segenap oknum warga bangsanya ada yang ingin mempertahankan "STATUS QUO" beserta seluruh pernak pernik kenikmatan yang pernah kelompok tersebut rasakan, sehingga berbagai cara di HALALKAN untuk memuluskan seluruh rencana mereka.

Contoh paling nyata adalah Peristiwa AKSI BELA ISLAM BerJILID-jilid yang dilakukan oleh sekelompok MINORITAS UMAT ISLAM INTOLERAN di Jakarta yg memperkenalkan kekuatan mereka dalam Aksi Demo dengan simbol gerakkannya dalam angka-angka, seperti 411, 212 & 313,-dst

Berikut adalah sebuah kisah klasik dalam romans sejarah TIONGKOK KUNO dipenghujung kekuasaan dinasty HAN untuk sedikit menggambarkan peristiwa DEMO BERJAMAAH MENGGUNAKAN TOPENG DENGAN KEDOK AGAMA ISLAM oleh para Politikus Busuk, Oknum Ulama serta Oknum Umat Islam serta Massa Islam dalam Ormas FPI dan MUI.

                     KISAH TIGA NEGARA
                          (#SAM_KWOK).
(三国時代;三國時代,Three Kingdoms Era 220 - 280).
   
Zaman Tiga Negara atau juga dikenal dengan nama Samkok (Hanzi sederhana: 三国時代; Hanzi tradisional: 三國時代, hanyu pinyin: sanguo shidai, bahasa Inggris: Three Kingdoms Era) (220 - 280) adalah sebuah zaman di penghujung Dinasti Han di saat Tiongkok terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan.

Di dalam sejarah Tiongkok biasanya hanya boleh ada kaisar tunggal yang dianggap menjalankan mandat langit untuk berkuasa, namun pada zaman ini karena tidak ada satupun negara yang dapat menaklukkan negara lainnya untuk mempersatukan Tiongkok, maka muncullah tiga negara dengan kaisar masing-masing. Tiongkok akhirnya dipersatukan oleh keluarga Sima yang merebut kekuasaan dari negara Wei dan menaklukkan Wu serta mendirikan Dinasti Jin.

Kronologi sejarah

Penghujung Dinasti Han

Pembagian administrasi (prefektur) di penghujung Dinasti Han.

Dinasti Han mengalami kemerosotan sejak tahun 100 karena kaisar-kaisar penguasa yang tidak cakap memerintah dan pembusukan di dalam birokrasi pemerintahan. Beberapa pemberontakan petani pecah sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat terhadap kekaisaran. Namun ketidakmampuan kaisar lebih parah dipergunakan oleh para kasim untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di tangan mereka. Penghujung Dinasti Han memang adalah sebuah masa yang didominasi oleh pemerintahan kasim.

Sejak Kaisar Hedi, kaisar-kaisar selanjutnya naik tahta pada masa kanak-kanak. Ini menyebabkan tidak ada pemerintahan yang stabil dan kuat karena pemerintahan dijalankan oleh kasim-kasim dan keluarga kaisar lainnya yang kemudian melakukan kudeta untuk menyingkirkan kaisar yang tengah beranjak dewasa guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ini menyebabkan lingkaran setan yang kemudian makin memperburuk situasi Dinasti Han.

Pada penghujung Dinasti Han muncul pemberontakan selendang kuning atau yang lebih dikenal dengan Pemberontakan Serban Kuning, yang dipimpin oleh Zhang Jiao beserta antek-anteknya mereka menduduki wilayah Yu Zhou, Xu Zhou, Yan Zhou. Tepatnya dulu menduduki kota-kota Ping Yuan, Wan, Xu Chang, Ye, Xiao Pei, Shou Chun. Untuk menumpas pemberontakan yang muncul maka pemerintah dinasti Han menobatkan He Jin sebagai jendral besar sekaligus perdana menteri. Selama kurang lebih 8 tahun, He jin masih tidak dapat menumpas pemberontakan.

Kelaliman Perdana Menteri Dong Zhuo
Tiga Negara

Negara Cao Wei Dong Wu Shu Han
Ibu kota Luoyang Jianye Chengdu
Kaisar- Kaisar pendiri
Kaisar terakhir 5 kaisar
Cao Pi
Cao Huan 4 kaisar
Sun Quan
Sun Hao 2 kaisar
Liu Bei
Liu Chan

Berdiri 220 222 221
Runtuh 265 280 263
Pada tahun 189, sesaat setelah Kaisar Lingdi mangkat, para menteri kemudian merencanakan untuk membunuh Jenderal He Jin, paman dari anak Kaisar Lingdi, Liu Bian. Ini dimaksudkan untuk mencegah He Jin mendudukkan Liu Bian sebagai kaisar pewaris tahta. Rencana ini diketahui oleh He Jin yang kemudian segera melantik Liu Bian sebagai pewaris tahta dengan gelar Shaodi pada April 189.

Selain itu, He Jin juga memerintahkan Dong Zhuo untuk kembali ke ibu kota Luoyang untuk menghabisi para menteri serta kasim yang ingin merebut kekuasaan itu. Sebelum Dong Zhuo sampai, He Jin sudah dibunuh dahulu oleh para menteri di dalam istana.

Yuan Shao kemudian mengambil inisiatif menyerang istana dan memerintahkan pembunuhan sebagian menteri dan kasim yang dituduh berkomplot merebut kekuasaan kekaisaran. Namun, menteri lainnya menyandera Kaisar Shaodi dan adiknya Liu Xie ke luar istana.

SHARE THIS

Author:

0 komentar: