28/06/2017

Laga Indonesia Vs Puerto Riko Berakhir Imbang 0-0


IDINDO.com - Indonesia meraih hasil imbang dalam laga uji tanding internasional menghadapi Puerto Riko di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (13/6/2017) malam. Kedua tim sama-sama tidak mampu mencetak gol sampai akhir laga, membuat laga berakhir dengan skor 0-0.

Dalam pertandingan ini kedua tim menurunkan skuat terbaiknya. Indonesia memasukkan lima nama pemain senior, yaitu Kurnia Meiga, Irfan Bachdim, Fachruddin Aryanto, Bayu Pradana, serta Stefano Lilipaly untuk melengkapi para pemain U-22 yang dominan menghiasi skuat. Sedangkan di sisi lain, Puerto Riko banyak menurunkan para pemain seniornya.

Secara permainan, kedua tim menampilkan permainan yang cukup atraktif. Saling serang terjadi antara kedua belah kesebelasan sepanjang pertandingan. Rataan penguasaan bola kedua tim pun tidak terlalu jauh. Dilansir dari LabBola, Indonesia mencatatkan 55% penguasaan bola, sedangkan Puerto Riko menorehkan penguasaan bola sebanyak 45%.

Namun terkhusus untuk Indonesia, permainan ideal itu hanya terjadi pada babak pertama.

Kehadiran Lima Pemain Senior; Positif dan Negatif

Sejak laga melawan Kamboja di Phnom Penh pada Kamis (8/6) lalu, lima pemain senior mulai menghiasi skuat timnas Indonesia yang mayoritas berkategori pemain U-22. Hadirnya lima pemain senior ini terasa benar dampaknya dalam permainan timnas Indonesia.

Saat laga melawan Kamboja, permainan Indonesia mulai ada perubahan dengan hadirnya lima pemain senior ini. Perubahan tampak terjadi di lini tengah dan lini serang. Dengan kehadiran Bayu Pradana di lini tengah, baik itu Hanif Sjahbandi maupun Hargianto dapat memerankan peran box-to-box dengan lebih baik. Bayu yang punya kemampuan intersep dan tekel yang baik dapat menghalau serangan-serangan dari pemain lawan.

Sementara itu dengan kehadiran Bachdim di lini depan, tekanan dapat diberikan secara konstan kepada pemain lawan sejak dari area pertahanan lawan. Bachdim yang memang dapat berperan sebagai defensive forward ini, dengan staminanya yang kuat, mampu meneror para pemain lawan sejak dari area pertahanan sendiri. Pada laga melawan Puerto Riko, kehadiran dari lima pemain senior kembali terasa.

Di lini serang, hadirnya Stefano Lilipaly sebagai gelandang serang memberikan dimensi penyerangan yang baru bagi timnas. Kemampuannya untuk membuka ruang serta berkolaborasi dengan para penyerang lain, semisal Irfan Bachdim, Saddil Ramdani, maupun Marinus Wanewar, membuat penyerangan Indonesia begitu hidup. Kredit khusus juga patut diberikan kepada Marinus yang tidak hanya diam menunggu bola saja di kotak penalti.

Cairnya pergerakan para lini serang ini membuat Indonesia mampu beberapa kali mengancam gawang Puerto Riko. Saddil yang aslinya berposisi sebagai winger kanan, kerap bergerak ke tengah, pun dengan Bachdim dan Lilipaly yang kerap saling bertukar posisi, dan Marinus yang rajin bergerak meminta bola.

Luwesnya pergerakan lini serang Indonesia ini membuat bek-bek Puerto Riko kebingungan. Tercatat pada babak pertama, Indonesia total melesakkan tujuh kali tembakan ke arah gawang, dengan tiga di antaranya mengarah ke gawang.

Namun hadirnya lima pemain senior ini tak selalu memberikan efek positif, seperti yang dialami di lini pertahanan. Koordinasi yang buruk dari Fachruddin Aryanto dan Bagas Adi Nugroho, tercermin dari jarak yang kerap terjadi antara keduanya, membuat para pemain Puerto Riko mampu menusuk beberapa kali dari sisi tengah.

Total 31% serangan Puerto Riko berasal dari area tengah. Buruknya lini pertahanan pun membuat Puerto Riko bahkan mampu mencatatkan 12 kali tembakan ke gawang Indonesia, dengan tujuh di antaranya merupakan tembakan yang mengarah ke gawang. Bayu Pradana, yang sebenarnya mampu memberikan efek yang cukup berarti di lini tengah, kerap beberapa kali ia harus kecolongan karena pemain Puerto Riko mampu beberapa kali menembus dari tengah.

Memasuki Babak Kedua Mulai Tidak Ideal Lagi

Walau ada catatan negatif dan positif dari permainan Indonesia di babak pertama, permainan Indonesia masih bisa disebut ideal pada babak pertama. Transisi mampu dengan baik mereka lakukan, terutama transisi dari bertahan ke menyerang. Kemampuan mengalirkan bola Hanif dan Bayu di tengah, ditambah dengan cairnya pergerakan di depan, membuat permainan Indonesia begitu mengalir.

Permutasi posisi yang baik berhasil dilakukan lewat pergerakan aktif dari Marinus, Lilipaly, Bachdim, dan Saddil. Serangan pun menjadi tidak hanya berpusat di kedua sayap, tapi juga mulai dilancarkan lewat tengah.

Namun hal ini hanya terjadi pada babak pertama. Setelah Saddil dan Marinus diganti pada babak kedua oleh Yabes Roni dan Febri Hariyadi, permainan timnas mulai menunjukkan kemandegan. Pergerakan Febri yang tidak se-mobile Saddil adalah salah satu penyebabnya, selain ditariknya Bachdim dan Lilipaly pada pertengahan babak kedua.

Ditariknya Bachdim dan Lilipaly, digantikan oleh Zola dan Septian David memang memberikan efek yang cukup besar. Namun kemampuan Zola dalam mendistribusikan bola dengan baik, serta kerap munculnya ia dari second line, setidaknya tetap mampu menghidupkan serangan timnas. Pekerjaan rumah menjadi milik Febri dan Septian.

Berbeda dengan Saddil yang bergerak liar dan mampu menyatu dengan cairnya pergerakan Bachdim-Lilipaly, Septian dan Febri terlalu terpatok pada posisi yang mereka tempati tanpa mencoba untuk bergerak liar saling bertukar posisi. Ini yang membuat serangan Indonesia menjadi tersendat.

Khusus untuk Febri, ia bahkan kerap menjadi penyebab terhentinya serangan Indonesia. Ia memang hanya kehilangan bola sebanyak tujuh kali, lebih sedikit dari Saddil (11 kali) dan Yabes Roni (10 kali), tapi ia sama sekali tidak bisa melepas umpan kunci ataupun umpan terobosan ke pertahanan lawan. Yabes mampu bikin dua umpan kunci dan dua umpan terobosan, sedangkan Saddil bikin dua umpan terobosan.

Ketiadaan Marinus sebagai penyerang yang aktif bergerak dan membuka ruang pun membuat serangan Indonesia kerap tak memiliki tujuan. Akhirnya, dengan permainan tidak ideal ini, pada babak kedua Indonesia sama sekali tidak mencatatkan tembakan yang mengarah ke gawang. Skuat Garuda malah mencetak lima tembakan off target.

Selain karena penyerangan Indonesia yang tidak rapi, pertahanan Puerto Riko yang mampu mengorganisir diri lebih baik di babak kedua membuat Indonesia cukup sulit untuk menembak ke arah gawang Puerto Riko. Sebaliknya Puerto Riko malah mampu menyerang balik pertahanan Indonesia dan melepaskan empat tembakan ke gawang, memanfaatkan koordinasi yang tidak lancar antara Bagas dan Fachruddin.

Dalam dua pertandingan melawan Kamboja dan Puerto Riko, terasa bahwa hadirnya lima pemain senior mampu mengangkat penampilan timnas Indonesia, walau di sisi yang lain hadirnya beberapa pemain senior membuat ada hal yang tidak klik antara pemain muda dengan pemain senior yang menempati posisi tersebut.

Tentu akan menjadi hal yang menarik jika kelak lima pemain senior ini tidak kembali dipanggil dan Luis Milla kembali mengandalkan para pemain U-22. Apakah akan ada sisi yang terguncang atau akan muncul bentuk permainan yang beda? Menarik ditunggu jika kelak lima pemain senior itu tidak bermain, terutama para pemain senior di pos lini serang.

Milla punya waktu sekitar dua bulan lagi untuk mempersiapkan skuat U-22 yang akan berlaga di SEA Games pada Agustus 2017 mendatang. Masih ada waktu baginya untuk meracik skuat dan menemukan formula yang tepat untuk permainan timnas U-22 yang ia asuh.

Ajang babak kualifikasi Piala Asia U-23 pada akhir Juli 2017 mendatang bisa menjadi ajang resmi sekaligus ajang pengukuran sejauh mana kekuatan timnas Indonesia U-22 ini. Itu pun jika Milla memang tidak memandang serius babak kualifikasi ini, karena apa yang dipertaruhkan dalam babak kualifikasi Piala Asia U-23 lebih besar, sebenarnya. 

Sumber : Detik.com

SHARE THIS

Author:

0 komentar: