25/03/2017

GPdI "Rise Up"


Catatan : Dr Jerry Massie SE, MA, MTh, Ph.D
Dosen/Peneliti TEPI/Pemred IDINDO/Ketua DPP GIAK

Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) siap menyelenggarakan Musyawarah Besar (Mubes) di Bandung, Jawa Barat (Jabar) 28-30 Maret 2017, untuk memilih ketua umum untuk periode 5 tahun mendatang. Tiga kandidat siap berjibaku dalam bursa pertarungan tersebut diantaranya, petahana Pdt Max Wakkary, Jhon Weol (Ketua MD DKI Jakarta) dan Hendrik Runtukahu (Bendahara Umum MP)

Masa depan gereja yang didirikan Rev W.H Offler, C Van Klaveren, Cornelius Groesbeck pada tahun 1921 dipertaruhkan. Gereja ini butuh pemimpin yang punya kredibilitas, moralitas, visioner, berintegritas, intensitas dan berdedikasi tinggi. Dalam sejarah GPdI mencatat nama Pdt AH Mandey ketua umum yang paling lama memimpin organisasi ini sebanyak 8 kali. Dirinya menahkodai GPdI yang merupakan organisasi gereja terbesar di Indonesia dari tahun 1980 hingga 2012. Tercatat ada enam Ketua Umum GPdI orang Indonesia sejak pecah perang dunia ke-2 yakni ; Pdt HN Rungkat (5 kali) Pdt E Lesnussa (5 kali ketum), Pdt LA Pandelaki (1 kali), HW Bolang (3 kali) Pdt AH Mandey (8 kali ketum) dan Pdt Max Wakkary. Warga asing yang menjabat Ketua Umum pertama GPdI adalah Pdt DHW Wennink Van Loon.

Leadership is not a position but an action and influence each other (Kepemimpinan bukanlah posisi tapi sebuah tindakan dan mempengaruhi orang lain). Bukan semua orang diberikan talenta untuk memimpin. Tuhan memberikan karunia khusus bagi pemimpin. Contoh dalam alkitab ; Daniel, Yusuf, Musa, Daud dan Nehemia. Yang dicari saat ini bukan hanya jago bicara tapi miskin tindakan, namun sedikit bicara namun banyak tindakan dan berbuat.

Tantangan yang dihadapi oleh calon pemimpin GPdi saat ini, yakni pengembangan Human Recources (Sumber Daya Manusia). Kita tahu bersama gereja ini memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dan berkualitas dalam berbagai bidang. Namun, sayang sejauh ini orang-orang tersebut belum bisa dimaksimalkan dan dikembangkan. Pasalnya, ahli-ahli kita tak pernah digubris oleh para petinggi kita. Untuk itu, Ketua Umum ke depan harus punya grand design dan master plan : (short term, mid term and long term goal). Secara jujur saat ini kita agak left behind jika disejajarkan dengan sejumlah gereja Bethel. Padahal usia gereja kita lebih tua ketimbang GBI. Begitu pula gereja Bethany dan Tiberias yang terus menggurita dan melejit di kota-kota besar. Mereka menguasai growth of church (pertumbuhan gereja) secara kuantitatif baik itu di Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota besar lainnya di Indonesia.

Oleh karena itu, the next leader GPdI harus memiliki new concept, new strategy and new breaktrough (konsep baru, strategi baru dan terobosan baru) agar dapat bersaing dengan gereja lain. Berbicara dalam aspek pengajaran teologis GPdI cukup baik, namun secara manajemen gereja baik itu (operasional, keuangan, SDM sampai teknologi kita agak tertinggal dan pincang.

Contoh kongkrit sampai kini kita jarang melahirkan penulis buku, pembicara televisi, radio, penulis artikel di media-media. Faktor utamanya mereka yang duduk di biro Media/multi media adalah orang-orang yang tak berkompeten dan berpengalaman. Harusnya di biro ini direkrut jurnalis GPdI yang bekerja baik di media cetak, televisi, radio, online sampai tabloid ternama. Jangan menempatkan mereka yang buta akan dunia media. Lebih tragis lagi kita tidak lagi memiliki surat kabar bahkan tabloid untuk memberitakan informasi seputar GPdI. Bagai mati suri, program kerja stagnan, kehilangan visi dan kehilangan pondasi. Lebih parah lagi terkait manajemen keuangan hingga kini, penulis tidak pernah mendengar revenue, income and expenses (pendapatan dan pengeluaran) apalagi saldo keuangan kita tersisa berapa? Semuanya kabur dan tak jelas. Faktor apa penyebabnya? Ini lantaran pemimpin kita tidak lagi think out of the box (berpikir kreatif) bagaimana cara mengembangkan organisasi ini. Atau bisa dikata vision die (visi mati).

Sangat disayangkan sejauh ini GPdI yang memiliki banyak dokter tapi tidak punya rumah sakit. Lulusan dokter kita tidak berdayakan. Sungguh naif! padahal para pendeta kita kerap memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit. Apa sebetulnya yang kerjakan pemimpin kita selama bertahun-tahun?

Sebetulnya ada banyak home work (PR) yang harus dikerjakan. Contoh, membangun gedung tempat pertemuan, GOR, hotel, home stay, universitas, sekolah, koperasi, panti asuhan, gedung auditorium bisa disewakan dan dana tersebut bisa masuk ke kas organisasi.

Sungguh miris! akhir-akhir ini para pemimpin kita tidak lagi berpikir cara mamajukan organisasi  tersebut tapi yang dipikirkan hanyalah bagaimana menghabiskan anggaran jalan-jalan ke luar negeri (Mesir, Israel), shooping dan bagaimana memperkaya diri sendiri Jarang dijumpai lagi pemimpin yang mau menyambangi panti asuhan, janda-janda dan fakir miskin sekaligus membantu mereka. Barangkali faktor "Mamon" (Cinta diri sendiri, keserakahan, ketamakan). Faktor koinonia, diakonia dan marturia sudah mati. Kalau organisasi ini harus cepat menangkap perkembangan zaman. Contoh di bidang pendidikan kita sebetulnya malu, lantaran kita sangat minim sekolah GPDI mulai dari SD sampai Universitas. Jumlah sekolah kita hanya dihitung dengan jari. Kita kalah jauh dengan gereja Katolik, Advent, GMIM dan Bethel. Ini adalah cambuk bagi pemimpin  ke depan. Apa dan bagaimana cara membangun gereja ini.

Sejatinya, menurut penulis secara organisasi sebenarnya kita gagal dalam berbagai aspek. Coba telusuri ada berapa MD yang memiliki kantor dan difungsikan. Mau tidak mau kita harus dapat memisahkan antara manajemen gereja dan pengembalaan, maupun penginjilan lantaran itu jauh berbeda. Kedepan seyogianya yang harus dipikirkan sang ketua umum adalah bagaimana mengatur, mengembangkan dan mengurus organisasi ini bahkan tak lagi memegang pengembalaan, jadi fokusnya akan terarah, dan menyiapkan dan mengaji staf di kantor. Cara penggajian mereka dari dana perpuluhan gereja yang disetor ke pusat.

Untuk membangun organisasi ini butuh orang-orang yang siap dan mau. Tentu mereka yang bijaksana dan memiliki skill. Begitu pula harus ada team work (kerja sama yang baik) serta harus tau menempatkan orang sesuai dengan tempat dan posisinya right man, right place bukan wrong man and wrong place. Jika perlu AD/ART perlu direvisi lagi pasal apa yang masih layak dan mana yang tidak. Kumpulkan para pakar-pakar di GPdI untuk membuat konsep organisasi ini agar tetap maju bagi kemuliaan nama Tuhan.





SHARE THIS

Author:

0 komentar: