28/12/2016

Ps Tonny Wowor Kupas Tujuan Inkarnasi Tuhan


Kutipan Khotbah Ps Tonny Wowor pada Natal IECF Denver, Minggu (25/12/2016)

Thema            : Tujuan Inkarnasi Tuhan.
Evangelium   : Yohanes 1 : 1 - 14.
Firman yang telah menjadi manusia

(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. (3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. (4) Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. (5) Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (6) Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; (7) ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. (8) Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. (9) Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. (10) Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. (11) Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (12) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (13) orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran

Dalam perspektif Perjanjian Lama (PL), Allah dominan tergambar sebagai Allah yang transenden. Transenden artinya, Allah yang terasa “jauh” tidak terjangkau, karena kebesaran Nya, dan kemahaan Nya. Seperti ungkapan Ayub yang berkata; Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan yang maha kuasa (Ayub 11:7). Yesaya yang berkata : Jadi dengan siap hendak kamu samakan Allah, dan apa yang kamu anggap dapat serupa dengan Dia (Yesaya 40:18). Dan masih banyak ayat lainnya yang sangat kental dengan kemahaan Allah, sehingga dengan segera membentangkan jarak tak terhingga antara Dia dengan manusia. Pemazmur bahkan mengambarkan manusia hanyalah seperti debu yang mudah tertiup angin, atau rumput yang segera layu, dihadapan Allah. Betapa besarnya Dia, itulah yang dimaksud gambaran Allah yang transenden.

Dalam perpektif PB Allah/ Tuhan bersifat Imanen, Tuhan yang sangat dekat. Keterbatasan manusia didalam keberdosaannya tidak dapat menjangkau Tuhan yang bersifat Transenden ( Jauh ), Jalan satu-satunya adalah Tuhan bersifat Transenden itu yang berinisiatif datang mengunjungi manusia dengan kata lain menyapa manusia melalui proses Ingkarnasi ( Tuhan menjadi manusia ) atau dengan istilah lain adalah NATAL yaitu kelahiran Yesus Kristus, yang Lukas 2 : 11. Yesus Kristus adalah Jurus Selamat manusia.

Yohanes gambarkan bahwa : Bahwa pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah yang segala sesuatu dijadikan oleh Dia, didalam Dia ada Hidup,dan hidup itu adalah terang manusia, terang itu bercahaya dan kegelapan itu tidak dapat menguasainya. Dan itu Firman itu sudah  ada sebelum dunia dijadikan, bahkan dunia dijadikan oleh Firman.
Dan Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tinggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes 1 : 14.
Ingkarnasi atau Natal adalah Firman / Tuhan yang telah menjadi Manusia didalam Yesus Kristus.

Yesus sendiri berkata kepada murid-murid Nya, sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia (Yohanes 14:7). Atau Yohanes 17:3; Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.

Pertanyaan pertama bagaimana Allah bisa menjadi manusia, sangatlah sederhana jawabannya. Allah pencipta yang maha, maka sudahlah pasti bukan masalah untuk menjadi manusia. Manusia adalah ciptaan Nya, apalah susahnya menjadi seperti ciptaan sendiri.

Yang  menjadi pertanyaan justru adalah kenapa Tuhan atau Firman itu  mau menjadi manusia ? Jawabannya adalah :

1. Karena Kasih. Yohanes 3 : 16.

Saya percaya bahwa hakekatnya Tuhan, melekat 2 sifat yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya yaitu Keadilan dan Kasih. Keadilan Tuhan telah dibuktikan ketika manusia melanggar akan ketetapan-Nya ditaman eden akibatnya mereka jatuh kedalam dosa, maka keadilan Tuhan menjatuhkan fomis penghukuman yaitu dikeluarkan dari Taman Eden, bersusah payah bekerja untuk mencari makan, bersusah payah untuk melahirkan dll. Namun dari sifat Kasih-Nya itulah maka Tuhan / Firman itu harus beringkarnasi melalui peristiwa Natal, Tuhan menjadi manusia. Kasih itu bersifat anugerah/karunia yang Tuhan limpahkan atau berikan kepada manusia, muara kasih itu adalah KESELAMATAN.
Kalau Keselamatan yang kita miliki merupakan Kasih karunia Tuhan (suatu pemberian secara cuma-cuma yang sebenarnya kita tidak layak untuk menerimanya ), maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling mengasihi satu-dengan yang lainnya.
Ungkapan Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus,
1 Korintus 13:1-3
(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
Kasih adalah :1 Kor. 13:4-7.
(4) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (5) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (6) Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. (7) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu

2. Karena Misi perdamaian.

Roma 5 : 1.Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Pada saat manusia jatuh kedalam dosa, maka hubungan manusia dengan Tuhan jadi rusak, terputus, tidak harmonis lagi, jarak semakin jauh. Manusia dengan segala keterbatasannya mencoba menjangkau Tuhan yang Transenden itu tidak bisa. Keingkarnasi Tuhan menjadi manusia didalam Yesus Kristus membawa perdamaian atau memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan.

Perhatikan 2 Korintus 5 : 20-21.
(20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Setiap orang yang telah didamaikan hidupnya, maka hatinya pasti merasa Damai Sejahtera.
Yohanes 14 : 27. “  Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Tuhan meninggalkan dan memberikan Damai sejahtera itu, dan setiap orang yang menerima / mengambil damai sejahtera yang dari Tuhan, maka dia tidak harus gentar dan gelisah hatinya didalam menjalani hidup ini. Kita tidak perlu mutar-mutar untuk mendapatkan damai, kita tidak perlu mengelilingi/pindah-pindah gereja untuk mencari atau menemukan damai, sebab damai itu berada didalam hati setiap mereka yang telah memberi dirinya didamaikan dengan Tuhan.

Filipi 4:7. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

3. Tuhan ingin berbicara langsung dengan manusia.

Ibrani 1:1-2. “ pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.”

1 Yohanes 1 : 1 - 3. “ Kesaksian rasul tentang Firman hidup

(1) Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu. (2) Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. (3) Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

2 Timotius 3 : 16 - 17. “  (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Tuhan berbicara kepada manusia melalui Firman-Nya yang telah diwahyukan, dengan tujuan untuk :
- Mengajarkan tentang arti suatu kehidupan.
- Menyatakan sesuatu yang salah didalam diri manusia.
- Memperbaiki sifat, karakter, kepribadian yang rusak.
- Mendidik manusia kepada suatu kebenaran yang sesungguhnya.
Tuhan memberkati kita semuannya Amin.
Selamat Hari Natal 25 December 2016, dan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2017.

P

SHARE THIS

Author:

0 komentar: