28/09/2016

Pil Pahit Diakhir Jabatan, Veto Obama Ditolak


IDINDO.com  - Pukulan telak dialami Presden Amerika Serikat Barrack Obama setelah hak veto atas rancangan undang-undang yang memungkinkan keluarga korban serangan teroris 11 September 2001 menuntut Arab Saudi ditolak mentah-mentah oleh Kongres Amerika Serikat.

Memang pahit diakhir jabatan Obama. Penolakan tersebut tercatat pertama kali dalam masa kepemimpinan Obama sejak dia berkuasa pada 2008 lalu.

Dalam pemungutan suara di Kongres AS, Kamis (29/9/2016) WIB, berakhir hanya 77 mendukung dan 384 menolak.

Dikutip AFP, sebelumnya senat menentang veto tersebut dengan 97 melawan satu suara.
Jumlah itu lebih dari dua pertiga suara yang dibutuhkan untuk membatalkan veto presiden,

Hasil ini adalah tamparan keras baginya, lantaran Obama sejak lama berjuang untuk membuahkan UU yang dikenal sebagai sponsor keadilan melawan terorisme (the Justice Against Sponsors of Terrorism Act- JASTA).

Menyikapi hal itu, Obama menyebutnya sebagai sebuah preseden yang berbahaya. 

"Saya mengerti mengapa hal ini bisa terjadi," kata Obama dalam wawancara dengan CNN.
"Jelas, kita semua masih membawa bekas luka dan trauma kejadian 11 September itu," tuturnya. 

Lanjut kata Obama keputusan Kongres ini bakal merugikan kepentingan nasional AS.
Diberitakan BBC, veto Obama terhadap RUU itu berlandaskan alasan akan munculnya potensi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, tentara, dan para pejabat digugat secara hukum di luar negeri.

Selain itu ada kekhawatiran akan mengganggu hubungan Amerika Serikat dengan Arab Saudi, salah satu sekutu dekat Washington di Timur Tengah.

Menurut Obama, para anggota parlemen yang setuju untuk mengesampingkan RUU ini tak memahami apa yang terkandung didalam aturan tersebut.

Presiden pertama kulit hitam ini beranggapan keputusan ini sebenarnya didasari oleh pilihan politis semata. Jurubicara Gedung Putih Josh Earnest sebelumnya telah menyebut bahwa pemungutan suara di senat merupakan hal paling memalukan dalam beberapa dekade terakhir. 

"Pada akhirnya senator ini akan harus menjawab hati nurani mereka sendiri dan juga kepada konstituen mereka tentang tindakan mereka hari ini," ujar Earnest kepada wartawan dalam perjalanan bersama Obama di Richmond, Virginia.

RUU ini mengubah UU tahun 1976 yang melindungi negara-negara lain dari gugatan hukum di Amerika Serikat.

Dengan kegagalan veto tersebut, maka keluarga korban serangan 11 September 2001 yang menewaskan 3000 orang berhak menggugat Pemerintah Arab Saudi, yang dituduh berperan dalam serangan di New York dan Washington tahun 2001 silam.

Akibat rencana RUU ini Arab Saudi sempat berang dan mengancam akan menjual berbagai surat berharga dan aset-aset mereka di AS yang bernilai 750 miliar dollar AS atau hampir mencapai Rp 10.000 triliun.

Obama sejak memimpin telah mengeluarkan 12 veto, namun baru kali ini ditolak, Sebuah prestasi yang langka mengingat Kongres "dikuasai" oleh Partai Republik. 

Berbeda dengan Presiden Republiken George W. Bush yang juga 4 kali mendapat penolakan dari 12 veto yang dikeluarkan.

Edi


SHARE THIS

Author:

0 komentar: