22/09/2016

Perceraian di Indonesia Berada di Titik Nadir

IDINDO.com - Tidak ada wajah-wajah lesu pagi itu. Semua orang bersikap biasa saja. Empat pilar berdiri tegak, menyambut setiap orang yang melintas menuju pintu masuk. Hampir 40 orang berjejer rapi di bangku ruang pendaftaran, sembari sesekali melihat arah jarum jam menghitung waktu kapan giliran dipanggil oleh resepsionis. Jarum kecil jam saat itu belum melewati angka 9.
"Saya mau daftar cerai," kata ibu beranak dua sembari membawa berkas-berkas yang menurutnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Satu persatu mereka menghampiri tiga pria berkemeja lengkap dengan celana bahan hitam rapih untuk mendaftarkan cerai atau sekedar mengambil berkas hasil perceraian. Terlihat mulai dari usia 20 tahun hingga tua renta menyatu di sana.
Tinggalkan ruang pendaftaran, mari menuju ke ruang tunggu pemanggilan sidang. Setelah kita melewati lorong sepi, tiba-tiba suasana kembali riuh di sana. Hal itulah yang disaksikan di Pengadilan Agama Jaksel, Kamis (15/9).
"Sehari bisa sampai 80 hingga ratusan orang yang melakukan sidang perkara," ungkap Fauzi, selaku petugas Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Jalannya sidang memakan waktu variatif, tergantung jenis perkara. Jika masuk tahap rujuk, cerai, atau mediasi, maka hanya memakan waktu sebentar yakni 5-10 menit karena majelis sekadar membacakan putusan. Namun kalau masih berada di level pembuktian, proses sidang bisa memakan waktu 1-2 jam.
Fauzi menuturkan, lima ruang sidang di Pengadilan Agama Jaksel, saban hari masing-masing digunakan oleh 20 hingga 25 orang yang mengikuti proses perceraian. Sidang rata-rata dilangsungkan tertutup. Hanya selebritis, biasanya, yang mengizinkan proses sidangnya dibuka untuk awak media.
Jumlah perkara di Pengadilan Agama Jaksel ini masih terhitung normal. Di beberapa pengadilan agama kota lain, angkanya dapat mencapai dua kali lipat. Padatnya jadwal sidang perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan merupakan gambaran situasi yang lebih besar di Indonesia.
Tak banyak orang menyadari, tingkat perceraian di Tanah Air merupakan salah satu yang tertinggi sedunia.
Anwar Saadi, selaku Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama membenarkan peningkatan tren perpisahan suami istri di negara ini. Berdasarkan data yang diperoleh sejak tahun 2009-2016, terlihat kenaikan angka perceraian mencapai 16 hingga 20 persen.
"Jadi memang perceraian ini semakin meningkat dari tahunnya. Meski kenaikan tak melonjak, ini cukup mengkhawatirkan" kata Anwar.
Hanya pada satu tahun saja angka perceraian sempat turun. Yakni 2011, sebanyak 158.119 ribu perceraian dari 285.184 ribu sidang talak setahun sebelumnya.
Adapun rekor angka perceraian tertinggi dalam setahun terjadi pada 2012. Kala itu palu hakim yang mengesahkan perceraian diketok 372,557 kali. Artinya, terjadi 40 perceraian setiap jam di Indonesia.
Tren tersebut mengkhawatirkan pemerintah, lantaran mengindikasikan rapuhnya institusi perkawinan saat ini. Dampak sampingannya, yang langsung terasa, adalah gangguan psikologis bagi anak.Selain itu, data tersebut menunjukkan sepertiga penggugat berusia di bawah 35 tahun. Maraknya pernikahan muda selama satu dekade terakhir ternyata 
berbanding lurus dengan tingginya perceraian.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tiga tahun lalu sudah mengingatkan, angka perceraian di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Pasifik. Namun laju keputusan suami-istri membubarkan biduk rumah tangga tak kunjung surut.
Persepsi masyarakat tentang perceraian biasanya menghinggapi kalangan selebritis. Hal ini ditunjang pemberitaan masif persoalan pribadi kalangan artis oleh infotainment.
Faktanya, mereka yang lebih banyak bercerai justru orang biasa, suami-istri yang bisa jadi merupakan tetangga atau sanak famili kita.
Anwar memaparkan, kasus gugatan cerai paling banyak bahkan tidak di kota besar, melainkan di kabupaten-kabupaten. Daerah dengan tingkat perceraian tertinggi adalahBanyuwangi, Jawa Timur. "Persentase di Banyuwangi itu bisa sampai di atas 30 persen," katanya,

Sumber : merdeka.com

SHARE THIS

Author:

0 komentar: