03/09/2016

Indonesia Siap Ekspor Produksi Ayam ke Luar Negeri


IDINDO.com - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan Indonesia segera mengekspor produksi ayam yang dimiliki saat ini karena stoknya sudah melimpah hingga sekitar dua kali lipat dari kebutuhan nasional.

"Sekarang ini kita lagi kampanye swasembada protein dan ada banyak protein yang tersebar di semua komoditas peternakan dan perikanan bangsa ini," ujarnya di Makassar, Sabtu (3/9/2016).

Amran Sulaiman bersama Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf serta Wakil Ketua Komisi IV Viva Yoga dalam lokakarya "Membangun Industri Peternakan Menuju Swasembada Protein Hewani" menekankan pentingnya menjaga stok pangan demi kemandirian bangsa.

Ia mengaku berbagai teroboson dan inovasi bersama semua pihak dilakukan untuk mendukung program pemerintah, yakni swasembada pangan dan menjadikannya sebagai ketahanan nasional.

Amran Sulaeman juga menyebut jika program swasembada protein hewani bisa diwujudkan sampai 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan produksi ternak dan hasil laut yang sudah mendukung.
"Kami mengubah kebijakan, bukan lagi swasembada daging tapi swasembada protein. Kita bahkan sudah mengekspor ayam ke Vietnam dan segera lagi ke Jepang," katanya.

Dia mengatakan produksi daging ayam nasional saat ini melimpah, di mana stok hingga saat ini 225 ribu ton atau dua kali lipat dari kebutuhan daging ayam secara nasional yang hanya 112 ribu ton.
Khusus untuk daging sapi, Amran menjelaskan saat ini 68 persen kebutuhan daging sudah disuplai oleh peternak lokal. Pada 2022 ditargetkan sudah dalam keadaan swasembada daging.

"Kalau ini sudah terwujud, tahun 2026 kita bisa melakukan ekspor, 2035 masuk industrialisasi peternakan dan tahun 2045 sudah bioindustri," katanya.
Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan swasembada daging pasti akan tercapai dan pemerintah pusat sudah berusaha keras membuat kebijakan tersebut.
Beberapa langkah telah diambil KPPU yang salah satunya terus mengawasi adanya praktik kartel atau persekongkolan dalam mempermainkan harga daging ayam.
Pemerintah juga menunjuk perusahaan pelat merah PT Berdikari (Persero) untuk mengatasi permasalahan kartel di sektor peternakan.

Dengan adanya perusahaan milik pemerintah, katanya, dominasi praktik kartel dapat diatasi dan harga ayam di pasar nasional dapat dijaga kestabilannya.
"Untuk ayam itu sudah surplus tinggal yang perlu dikelola itu hulunya. Produksi harus diperbaiki karena selama ini orang berpikir kandang itu yang terbuka padahal iklim ini sudah berubah harus segera masuk ke 'close house' supaya produksi bisa lebih banyak dan pakannya lebih efesien," katanya.


Sumber : Beritasatu.com

SHARE THIS

Author:

0 komentar: