04/09/2016

Bareskrim Polri Ungkap Praktek Prostitusi Online Pelajar



IDINDO.com - Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM), Suprapto, mengatakan, praktik prostitusi online (daring) masih rentan dan mudah menyasar para pelajar sebagai kalangan yang akrab dengan media sosial (medsos).
"Media sosial masih longgar dimanfaatkan untuk kepentingan apa saja, termasuk bisnis prostitusi yang mudah menyasar para pelajar," kata Suprapto, di Yogyakarta, Minggu (4/9/2016).

Suprapto mengatakan, saat ini hampir sebagian besar pelajar telah memiliki akun di media sosial. Sedangkan pada sisi lain, sindikat prostitusi juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana yang praktis dan murah untuk melancarkan aksinya.
"Bagi sindikat prostitusi itu banyak remaja pengguna media sosial bagai gayung bersambut saja. Dengan satu akun mereka bisa melakukan pertemanan dengan banyak pengguna media sosial," kata dia.

Menurutnya, melalui sarana media sosial, pelaku prostitusi juga mudah saja melakukan pendekatan dengan menggunakan bahasa yang akrab di kalangan remaja disertai iming-iming yang menggiurkan.
"Pelajar apalagi masih setingkat SMP mudah dibujuk dengan iming-iming uang yang banyak," kata dia pula.

Kasus prostitusi anak di Kawasan Cipayung, Jakarta Timur yang berhasil terkuak beberapa waktu lalu, menurut Suprapto, menjadi bukti bahwa media sosial hingga saat ini masih menjadi sarana favorit pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya.
"Medsos ini bagai pisau bermata dua, bisa untuk keperluan positif dan negatif sekaligus," katanya lagi.

Dengan terus terbongkar kasus prostitusi daring, ia berharap, aparat kepolisian bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat memberikan rumusan secara khusus dalam upaya penanganannya, sehingga berbagai unggahan atau iklan di media sosial yang menjurus pada prostitusi atau perdagangan orang bisa terdeteksi dan langsung dilacak, bukan hanya aspek pornografinya.

"Ini perlu pencermatan secara khusus agar tidak terulang, saya jumpai masih banyak iklan layanan seksual di media sosial tanpa kontrol," kata dia.
Selain itu orang tua serta guru juga memiliki peran penting memberikan arahan para pelajar atau remaja, agar lebih selektif dan bijak dalam menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi.

Pada Selasa (30/8/2016), Bareskrim Polri menangkap pelaku perdagangan anak di bawah umur berinisial AR (41) di sebuah hotel di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Ia memperdagangkan anak-anak itu untuk penyuka sesama jenis.
Modus yang dilakukan AR yakni dengan menjual anak-anak tersebut melalui akun facebook. AR memampang foto-foto korban tersebut di akunnya dengan tarif yang telah ditentukan.

Sumber : beritasatu


SHARE THIS

Author:

0 komentar: